Tanah Kelahiran, Negeri Garam (About me)
Perjalanan epik ini dimulai dari sebuah desa di Sumenep, Madura, bernama Lembung Barat. Di sana, pada hari Kamis yang penuh berkah, tepatnya 13 Juni 2002 menjelang waktu tengah hari, saya resmi meluncur perdana ke bumi. Saya lahir dengan sebuah tangisan melengking dan—seperti manusia normal pada umumnya—dalam kondisi polos tanpa benang sehelai pun.
Waktu kecil, saya punya cita-cita mulia: menjadi dokter. Alasannya? Sangat pragmatis dan penuh trauma masa kecil. Dulu saya pikir dokter itu manusia paling sakti yang punya kuasa penuh atas jarum suntik. Jadi, cita-cita itu sebenarnya kedok balas dendam supaya saya bisa balik menyuntik anak-anak tetangga yang suka merebut mainan saya. Sederhana, kan?Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah mencicipi asam garam kehidupan, cita-cita itu mengalami degradasi moral. Sekarang, cita-cita saya tidak muluk-muluk: yang penting enggak stres menjalani hidup. Waras adalah jalan ninja saya saat ini.
Angka Ghaib dan Kriteria Pasangan yang "Sederhana"
Bicara soal umur, entah mengapa saya merasa sudah sangat sepuh. Kalau dihitung-hitung, saat jemari ini menari di atas keyboard hp cicilan kredit yang belum lunas, usia saya sudah mencapai 8.804 hari. Atau lebih tepatnya, genap 24 tahun, 1 bulan, 16 hari, 4 jam, 27 menit, dan 01 detik. Kata hitungan ghaib setidaknya begitu sejak tulisan ini dibuat, hehe.
Di usia kepala dua ini, tentu saja saya mulai memikirkan masa depan, termasuk soal pendamping hidup. Sebagai pria yang simpel, saya tidak muluk-muluk dalam mencari calon istri. Kriterianya sangat mendasar dan bersahaja. Hanya ada seratus poin kecil saja, tidak kurang dan tidak lebih. Catat baik-baik, siapa tahu kamu adalah orangnya:
1. Sholehah (pondasi utama dunia akhirat).
2. Cantik (relatif, tapi mutlak di mata saya).
3. Pintar (biar anak-anak kami nanti cerdas).
4. Semampai (semeter tak sampai? Bukan, maksudnya semampai ideal).
5. Sayang sama ibunya, otomatis sayang sama ibu saya.
6. Jago masak (minimal mi instan rasanya enggak hambar).
7. Enggak gampang ngambek kalau ditinggal mancing.
8. Terbiasa sederhana dan rajin menabung.
9. Bisa diajak diskusi dari bab fikih sampai teori konspirasi alien.
10. Enggak minta mahar seisi jagat raya beserta tata suryanya.
11. Suaranya adem, bukan tipe yang kalau manggil bikin jantungan.
12. Nrimo ing pandum (menerima pemberian dengan syukur).
13. Tahu bedanya merica sama ketumbar.
14. Hafal minimal juz 30 (biar bisa gantian jadi imam dan makmum).
15. Rajin ibadah Sunnah dan bersedekah.
16. Punya selera humor yang sefrekuensi (biar recehnya sama).
17. Bisa diajak deep talk jam 2 pagi sambil makan martabak.
18. Keturunan baik dan orang baik-baik.
19. Rambutnya wangi (meski jilbaban, pas di rumah harus paripurna).
20. Mata yang kalau menatap bisa meredakan badai stres di kepala.
21. Bukan penganut sekte bubur diaduk kalau saya penganut tidak diaduk.
22. Suka kebersihan, minimal kamarnya enggak kayak kapal pecah.
23. Bisa dandan, tapi enggak butuh waktu 3 jam cuma buat ke minimarket.
24. Bisa diajak hemat tanpa harus merasa menderita.
25. Taat dan sayang sama suami.
26. Tidak gampang termakan gosip akun lambe-lambean di media sosial.
27. Tutur katanya sopan, bikin tetangga segan dan damai.
28. Kalau ketawa enggak sampai menggelegar membelah langit.
29. Mandiri, tapi tetep tahu kapan harus bermanja-manja.
30. Setia (karena kesetiaan itu barang mewah zaman sekarang).
31. Enggak gengsian kalau diajak makan di pinggir jalan.
32. Pandai menjaga rahasia internal rumah tangga.
33. Suka anak kecil (persiapan buat tim sepak bola kami nanti).
34. Punya hobi yang positif dan menghasilkan.
35. Enggak gampang insecure sama pencapaian orang lain di Instagram.
36. Kalau marah, bicaranya pelan tapi asertif dan solutif.
37. Bisa naik motor (minimal kalau saya capek melaut, bisa gantian).
38. Jari-jarinya lentik, enak dilihat pas lagi salaman setelah salat.
39. Senyumannya mengandung kadar gula tinggi, bikin diabetes asmara.
40. Enggak hobi maraton drakor sampai lupa waktu salat fardu.
41. Menghargai waktu orang lain dan tidak suka ngaret.
42. Paham fashion, tapi enggak harus pakai barang branded semua.
43. Bisa bahasa Madura dikit-dikit biar nyambung sama tetuha di kampung.
44. Bukan tipe pendendam yang suka mengungkit kesalahan masa lalu.
45. Punya wawasan luas tentang konsep parenting masa kini.
46. Enggak takut sama kecoak biar saya enggak usah panggil damkar.
47. Suka baca buku, atau minimal suka baca artikel yang bermanfaat.
48. Bisa mengelola keuangan dengan bijak sebagai akuntan rumah tangga.
49. Menghormati privasi masing-masing dalam batas yang wajar.
50. Selalu bersemangat membangunkan saya untuk salat subuh tepat waktu.
51. Enggak pelit kalau diajak berbagi dengan orang yang membutuhkan.
52. Tahu kapan waktu yang tepat untuk bicara dan kapan harus mendengarkan.
53. Punya suara merdu suka syair shalawat.
54. Sehat jasmani dan rohani lahir batin.
55. Postur tubuh yang pas dan nyaman kalau dipeluk setelah pulang kerja.
56. Enggak nuntut liburan ke Paris tiap bulan, ke kedai bakso saja cukup.
57. Bisa diajak kerja sama membangun bisnis kecil dari nol.
58. Punya prinsip hidup yang sejalan dan seirama dengan saya.
59. Tidak suka membandingkan saya dengan mantan atau suami orang lain.
60. Kulitnya bersih dan terawat dengan baik.
61. Giginya rapi, kalau tersenyum bikin dunia berhenti berputar sejenak.
62. Enggak gampang panik kalau menghadapi masalah mendadak.
63. Suka dan sabar mendengarkan cerita-cerita absurd saya.
64. Bisa menjahit pakaian, minimal memasang kembali kancing baju yang lepas.
65. Menjaga pandangan dan kehormatan diri saat di luar rumah.
66. Punya aroma tubuh alami yang menenangkan hati yang gundah.
67. Enggak kecanduan main TikTok sampai joget-joget di fasilitas umum.
68. Bisa membedakan dengan tegas mana kebutuhan dan mana keinginan.
69. Suka menemani saya jalan-jalan sore tanpa tujuan yang jelas.
70. Punya empati tinggi terhadap sesama makhluk hidup di bumi.
71. Tidak suka mengeluh atau membuat status galau di WhatsApp.
72. Bisa diajak kompromi soal pembagian tugas domestik rumah tangga.
73. Menghargai usaha sekecil apa pun yang sudah saya lakukan.
74. Jago pijit setelah seharian punggung ini remuk bekerja.
75. Bisa membuat rumah terasa seperti surga, bukan medan perang.
76. Punya impian besar yang tinggi tapi kaki tetap membumi.
77. Enggak takut kulitnya hitam kalau diajak jalan-jalan outdoor.
78. Pandai menempatkan diri di berbagai situasi sosial kemasyarakatan.
79. Bisa mengendalikan emosi dengan baik saat masa PMS datang.
80. Suka menyiram tanaman atau merawat sesuatu dengan kasih sayang.
81. Pecinta hewan seperti kelinci atau kucing.
82. Punya tatapan mata indah yang bikin adem.
83. Bisa diajak hidup sederhana di desa maupun dinamis di perkotaan.
84. Menghormati keputusan saya sebagai kepala keluarga nanti.
85. Tidak suka membicarakan keburukan orang lain alias anti-ghibah.
86. Selalu tampil rapi, bersih, dan wangi di depan suami.
87. Suka murottal Al-Qur'an dan syair shalawat.
88. Bisa memberikan kritik yang membangun tanpa menjatuhkan harga diri.
89. Suka membuatkan teh hangat secara sukarela di malam hari.
90. Tidak gampang menyerah pada keadaan yang sedang sulit.
91. Punya sifat keibuan yang kental dan mengayomi.
92. Bisa tertawa lepas bersama saya tanpa harus jaim.
93. Selalu bersyukur atas apa pun hasil akhir yang didapatkan.
94. Menjadi suporter nomor satu untuk semua impian baik saya.
95. Menjadi tempat pulang dan penyejuk hati
96. Punya ketulusan hati yang terpancar alami dari wajahnya.
97. Komitmen penuh untuk bisa diajak menua bersama dengan bahagia.
98. Putih, Ceria, periang dan penyayang.
99. Siap menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kami kelak.
100. Dan yang paling penting: Berwujud manusia, nyata, dan mau sama saya!
Nah, bagaimana? Kriteria yang sangat sederhana dan tidak menuntut, bukan? Saking simpelnya, daftar ini bisa kalian jadikan doa harian. Semoga dikabulkan oleh Allah SWT amiiin yaa robbal alaminn 🤲.
-------------------------
Filosofi Joran Pancing dan Parebhasan (filosofi hidup) orang Madura
Dalam mengarungi samudra kehidupan, saya memegang satu prinsip teguh: hidup simpel dan enggak ngerepotin orang lain. Contoh konkretnya? Ya seperti saat saya bertamu ke rumah teman. Kalau haus, saya lebih memilih menahan dahaga atau diam-diam melipir ke dapur mereka sendiri buat ambil air, daripada harus membuat tuan rumah repot-repot menyeduh sirup beraroma sopan santun.
Selayaknya manusia urban yang butuh pelarian, saya juga punya hobi. Memancing. Bagi sebagian orang, memancing adalah kegiatan membuang waktu demi hobi yang tidak pasti. Tapi bagi saya, memancing adalah ritual spiritual yang mendekatkan saya pada petuah leluhur tanah kelahiran.
Orang tua di Madura punya falsafah kuno yang berbunyi: "Abhantal omba' asapo' angen"—berbantal ombak, berselimut angin. Petuah tetuha bahari ini adalah simbol kerja keras, ketangguhan, dan keberanian masyarakat Madura saat melaut menghadapi ketidakpastian samudra.
Saat saya duduk di tepi air menatap pelampung, falsafah itu terasa hidup kembali. Memancing mengajarkan saya untuk tangguh menghadapi ombak ujian hidup dan ikhlas menerima takdir angin yang berembus. Kita sudah pasang umpan terbaik, tapi kalau takdir hari itu berkata 'zonk', ya pulang membawa ember kosong dengan hati yang tetap lapang. Lagipula, ikan adalah satu-satunya makhluk yang tidak akan menghakimi masa depan kita.
-------------------------------
Pesan Terakhir dari Kasur Empuk
Oke, sebelum tulisan pertama yang acak-acakan ini saya tutup, saya ingin berbagi sedikit permenungan hidup untuk kalian para pembaca yang tersesat di blog ini:
"Hiduplah di dunia seakan-akan engkau hidup selamanya, dan persiapkanlah akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari."
Seimbang, selaras, dan tetap membumi.Oke deh, sampai ketemu di tulisan aku berikutnya ya! Betewe, ini aku ngetik sambil rebahan, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Mata sudah tinggal 5 watt dan ngantuknya bener-bener pollll!
Salam rebahan,
@ah.mushthafahadi_
Rabu, 29/07/26

Komentar
Posting Komentar